Archive for the ‘Kearifan Lokal’ Category

Susu Manusia Terbaik, Susu Sapi Baik

29 Juli 2012

Saat Saya dipanggil, “Galih..” Sayapun menyahut dengan “Hah”. Nah saat itulah hak asuh untuk mengasuh Saya sebagai seorang anak seolah terkesan diperebutkan oleh orang tua saya sendiri versus sapi. Dan ketika saya dipanggil lantas saya menyahut panggilan itu dengan kata “Hah” sekali lagi dipertegas dengan sahutan “hah”. Selamat.. Selamat berarti saya telah sukses melalui serangkaian proses adopsi bergabung bersama keluarga sapi, selamat buat sapi yang telah memenangkan hak asuh atas saya sebagai anak, ini semua berkat susumu.

(more…)

Iklan

Unggah-ungguh & Eksistensinya

19 Mei 2012

sumber gambar : aufavoices.blogspot.com

Hanya selembar 3 kali 4 senti meter hitam putih pagi itu mau tak mau Ibu dan Aku harus menempuh lebih kurang jarak 25 kilo meter pulang pergi. 25 kilo meter seolah tak begitu berarti dibandingkan dengan selembar 3 kali 4 senti meter hitam putihnya.

Setelah kami berkendara sepeda motor sekitar 30 menit, melewati jalan menurun dan dipaksa sesekali dua kali bergoyang dikarenakan jalanan sebagai panggung didapati makin banyak berlubang mungkin karena terlalu seringnya dipakai pentas dan melintas, akhirnya kamipun sampai pada tujuan kami, studio foto.

(more…)

Nikmat Untuk Sang Bibir

16 April 2012

Untuk pagi yang kesekian kali, kudapati noda dimata ini. Noda merah.. dan semakin memerah, dibelai lembut semilir angin dipagi yang terasa menggigil membuat mata ini berlinang, seolah menangis.. merasa diperkosa untuk membukakan kelopaknya.

Noda ini, bukan noda karena air mata, mungkin noda penuh harapan sebagai pertanda bahwasannya mata ini lelah, memberontak sekuat tenaga melawan pemaksaan yang terasa menyakitkan ini, sembari mengeluarkan isyarat bahwa dirinya saat ini lemah, lemah tak berdaya. Memohon untuknya agar bisa terpejam untuk beberapa saat kedepan, sembari memberi janji manis, bahwa ketika terbuka pada saatnya nanti semuanya akan membaik.

(more…)

“Gadget” Masyarakat Berkearifan Lokal

15 April 2012

Kebayang ngga sih, dulu zaman mbah buyutnya kita zaman bahola kan belum ada tekhnologi secanggih sekarang. Yang apa2nya serba digital. Orang saja sekarang bisa dibikin digital loh. heheh.. Dulu.. sambil membayangkan nih ceritanya :roll:. Yang jelas lain berbeda dengan zaman sekarang. Beruntung sekali rasanya kita terlahir di zaman yang hidupnya sebenarnya serba dimudahkan, dimudahkan dengan berbagai macam aplikasi tekhnologi yang super canggih. Bisa merasakan kecanggihannya kan..? heheh.. Dulu.. untuk mengetahui waktu, seseorang berpedoman pada matahari. Selain matahari sebagai pedoman alami penunjuk waktu, orang dulu juga telah mempunyai alat penunjuk waktu yang bertekhnologi canggih juga pada zamannya.

(more…)