Unggah-ungguh & Eksistensinya

sumber gambar : aufavoices.blogspot.com

Hanya selembar 3 kali 4 senti meter hitam putih pagi itu mau tak mau Ibu dan Aku harus menempuh lebih kurang jarak 25 kilo meter pulang pergi. 25 kilo meter seolah tak begitu berarti dibandingkan dengan selembar 3 kali 4 senti meter hitam putihnya.

Setelah kami berkendara sepeda motor sekitar 30 menit, melewati jalan menurun dan dipaksa sesekali dua kali bergoyang dikarenakan jalanan sebagai panggung didapati makin banyak berlubang mungkin karena terlalu seringnya dipakai pentas dan melintas, akhirnya kamipun sampai pada tujuan kami, studio foto.

Bukan berlagak laksana Justin Bieber yang beberapa waktu silam membuat sebagian masyarakat negeri kita geram :twisted:, gempar, karena pernyataan yang didengar kurang enak, tapi ukuran studio foto itu memang kecil dengan pengaturan tempat yang kurang tertata, semrawut, acak, tapi tak apalah.. yang penting itu kan kilatnya, 3 kali 4 hitam putihnya. Jepret jepret, tukang foto itu memberi kode melalui morse kameranya menandakan sesi pemotretan Ibuku telah usai.

Sembari menunggu proses mencetak foto itu, Ibuku terlihat sedang beradu cakap dengan beberapa Ibu-Ibu muda yang sedang momong anaknya, satu dari beberapa Ibu–Ibu muda tersebut ada yang Ibuku telah mengenalnya. Kelihatannya, mungkin Ibu–Ibu muda itu orang yang tinggal di sekitar studio foto yang ada disitu. Dari samping kejauhan Aku sesekali mendengar sayup-sayup percakapan antara Ibuku dengan salah satu Ibu–Ibu muda yang telah ada disitu lebih dulu sebelum kedatangan Kami. Terdengar Ibuku menyapa salah satu Ibu–Ibu muda itu dengan sapaan “Mbak”. Ibu–Ibu muda itu terlihat ramah bahkan dari bahasa yang Ia gunakan terkesan “ngajeni”. Bahasa yang Ia gunakan bahasa jawa karma, ngajeni alias menunjukkan rasa hormat sekali bagi orang jawa. Aku yang mendengarnyapun merasa ini perlu & patut untuk dicontoh, dipertahankan.

Sesekali Aku terlihat cemas memperhatikan sekaligus mengawasi bocah balita anak dari Ibu–Ibu muda itu yang memang sedang usil–usilnya. Di depanku bocah balita itu terlihat asyik dengan mainan ditangannya. Sesekali berlari dan tertatih, sesekali duduk semaunnya sambil meraih apa yang ada didekatnya. Sambil duduk di sebuah bangku Aku merasa tak bisa melepas pandanganku begitu saja untuk sekedar mengawasi bocah balita tersebut, Aku hanya khawatir dengan suhu panas kenalpot motorku kalau–kalau bocah balita itu nanti menyentuhnya. Bakalan melepuh kulit tangannya. Ya benar saja, bocah balita itu mendekati motorku, sambil sengkoyongan menggenggam butiran pasir, bocah balita itu terlihat menjulurkan tangannya kearah lubang kenalpot yang masih terlihat mengeluarkan asap bersuhu kepanas–panasan. Karena takut terjadi sesuatu pada bocah balita itu akupun berdiri bergegas menghampiri sembari menegurnya agar supaya Dia bermain menjauh dari sekitar motorku. Untunglah hanya segenggam pasir yang bocah balita itu masukkan kedalam lubang kenalpot motorku tanpa Ia menyentuh bibir lubang kenalpot panas itu. Lega, karena Dia bocah telah menjauh dari sekitaran motorku.

Kejadian itu benar–benar luput dari Ibu bocah tersebut. Dalam hatiku bertanya kok terkesan lepas pengawasan begitu saja Ibu–Ibu muda tersebut, asik ngobrol bukan berarti harus melepaskan pengawasan begitu saja untuk buah hatinya. Kalau dibilang lokasinya juga cukup ekstrem bagi bocah seumuran itu, bukan karena bertebaran kenalpot–kenalpot motor yang bisa memelepuhkan kulit, jarak menuju badan jalan raya yang ramai berseliweran kendaraan juga tidak begitu jauh untuk dijangkau bagi si bocah balita tersebut.

Ya untunglah itu semua masih sebatas bayang kekhawatiranku saja, semoga saja tidak lebih, semoga saja bukan kebiasaan Ibu–Ibu muda itu dan kebanyakan Ibu–Ibu muda sekarang yang lepas pengawasan di saat menemani anaknya bermain, karena saking asiknya mengobrol dengan Ibu–Ibu lain entah apa itu yang diobrolkannya.

Kembali perhatianku tertuju pada bangku sebelah dimana Ibuku duduk bersama dengan Ibu–Ibu muda itu. Ada yang lain kedengarannya, ya bahasa Ibu–Ibu muda itu ko sudah berbeda ya..? tidak seperti awal saat bertegur sapa, dari bahasa karma yang terkesan “ngajeni” berubah menjadi bahasa jawa ngapak. Dalam hatiku bertanya, “Kenapa secepat itu berganti haluan..?”. hehe.. 🙂 bukan masalah sebenarnya, hanya saja ko aneh ya, yang sudah bagus ko malah jadi berubah drastis secepat kilat fotonya.. barangkali sudah merasa akrab, jadi bahasa yang ber unggah–ungguh itu mungkin cukup digunakan untuk mengakrabkan saja ya..? ya engga lah, mungkin baiknya memang tetap konsisten. Disamping kekakraban yang sudah terjalin ya unggah–ungguh tidak semestinya ditinggalkan bukan..? hehe.. Ya, begitulah.

Foto hitam putih ukuran 3 kali 4 pun sudah ada di tangan. Setelah membayar, berpamitan, Aku dan Ibuku melanjutkan perjalanan untuk kembali pulang kerumah. Pas foto hitam putih ukuran 3 kali 4 yang kilat dan cukup banyak memberi pelajaran berharaga untukku hari ini.

Iklan

4 Tanggapan to “Unggah-ungguh & Eksistensinya”

  1. pkbmedukasi Says:

    hitam dan putih memberi kesan yang tidak buram, spt pelajaran dlm postingan ini… salam kenal balik gan. menarik ceritanya.

  2. F.Galih Mahardi Says:

    Si Agan msh saja rendah hati.. baiklah, sama2 belajar Gan.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: