Nikmat Untuk Sang Bibir

Untuk pagi yang kesekian kali, kudapati noda dimata ini. Noda merah.. dan semakin memerah, dibelai lembut semilir angin dipagi yang terasa menggigil membuat mata ini berlinang, seolah menangis.. merasa diperkosa untuk membukakan kelopaknya.

Noda ini, bukan noda karena air mata, mungkin noda penuh harapan sebagai pertanda bahwasannya mata ini lelah, memberontak sekuat tenaga melawan pemaksaan yang terasa menyakitkan ini, sembari mengeluarkan isyarat bahwa dirinya saat ini lemah, lemah tak berdaya. Memohon untuknya agar bisa terpejam untuk beberapa saat kedepan, sembari memberi janji manis, bahwa ketika terbuka pada saatnya nanti semuanya akan membaik.

Ada seuntai harap, saat beberapa organ tubuh yang lain sepakat kompak seolah setuju bahwasannya mereka masih lelah. Seketika, semua harap ingin itu seolah sirna, musnah. Tanpa hirauan, hanya acuh dan penuh dengan rasa dicampakkan sesaat sang bibir tiba-tiba mengungkapkan bahwa ia merindukan sentuhan hangat penuh nikmat dari sesosok hitam  pekat secangkir kopi.

Mereka yang merasa tercampakkan pun diam, diam seribu bahasa tanpa terucap kata. Sebisa mungkin si mata dan yang lain diam untuk lebih mengerti, bahwasannya kenikmatan pagi ini bukan porsinya lagi, melainkan kenikmatan teruntuk bagi sang bibir. SELAMAT NGOPI..

Iklan

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: